Thursday, June 7, 2007

Mengintip Perjalanan Karir Personel Grup Vokal Tangga

Kesuksesan dan popularitas grup vokal Tangga memang belum bisa disejajarkan dengan grup vokal lain seperti Warna, Tofu atau RSD. Apalagi dibandingkan dengan band papan atas seperti Samsons, Dewa atau pun Ungu. Namun ketika lagu Terbaik Untukmu dan Hebat dari debut album self-titled-nya, Tangga (2005), berhasil menjadi hot radio request sepanjang 2005 – 2006, kehadiran mereka mulai dilirik dan diperhatikan. Setelah bongkar pasang personel, akankah Tangga mampu mampu bertahan dan meraih sukses seperti kelompok vokal lain?

Tangga dibentuk pada tahun 2001 oleh Johandi Yahya, manajer Didi Riyadi, drummer Elemen. Ketika melihat Tata, adik kandung Didi, Johandi yakin bahwa cowok itu punya potensi dan bakat yang besar. Setelah sepakat dengan Didi dan Farida Saleh, ibunda Didi dan Tata, Johandi mengirimkan foto Tata ke ajang pemilihan cover boy sebuah majalah Aneka. Ternyata Tata berhasil menjadi juara favorit. Sejak saat itu Tata berada di bawah naungan Johandi. Rupanya Joy, panggilan Johandi, tak hanya menangkap bakat acting Tata, tetapi juga bakat menyanyinya. Itu karena ia selalu melihat Tata sering menyanyi sendiri, sekalipun kemampuan vokalnya belum terasah baik. Ia menawari Tata membentuk sebuah grup vokal.

Tata dan Joy kemudian menggandeng Nerra yang keluar sebagai juara dua di ajang yang sama. Setelah tahu bahwa Nerra pandai menyanyi, Joy kemudian menawari Nerra untuk masuk dapur rekaman dengan syarat harus lebih dahulu diuji oleh Harry Budiman, music director. Nerra setuju. Joy, Tata dan Nerra kemudian mencari personel lagi. Dan dari hasil audisi di tahun 2003, digandenglah Kamga dan Desty. Formasi sudah utuh sesuai dengan warna suara. Desty di alto, Kamga di baritone, Nerra di mezzo sopran dan Tata di bass. Mereka kemudian bernyanyi. Tapi waktu itu mereka masih bermain di medan hip metal. Seiring perjalanan waktu, mereka beralih ke ranah pop yang easy listening dengan beberapa warna seperti R&B, rap hingga dance.

Debut album self-titled mereka, dilempar Februari 2005. Album itu lumayan sukses untuk ukuran sebuah grup vokal pendatang baru. Track seperti Terbaik Untukmu dan Hebat bahkan menjadi hot radio request sepanjang 2005 – 2006. Belajar dari kesuksesan album perdana, Tangga, Joy dan Harry Budiman kembali menggodok materi album kedua. Rencananya, album itu dilempar Desember 2006 lalu. Sayang sekali, ketika single berjudul Cinta Begini sudah dilempar ke radio-radio dan cover album sudah selesai, Desty mengambil keputusan untuk mundur. Tapi para personel yang lain sadar betul bahwa mereka tidak bisa menahan Desty yang ingin berbuat sesuatu di luar Tangga. Alhasil, album kedua tak jadi dilempar. Dalam waktu lumayan singkat, mereka telah menggandeng Chevrina yang tak lain adalah teman Kamga dan Nerra di Sekolah Musik Fasto. Take vokal kembali dilakukan. Cover album juga diganti. Album kedua berjudul Cinta Begini baru di-launch 13 Februari lalu di bawah bendera SONY BMG.

Menariknya, lagu Cinta Begini sudah langsung mendapat tanggapan luar biasa. Di beberapa stasiun radio terkenal, misalnya, Mustang FM, Istara FM, Swaragama FM dan Star Tangerang FM, lagu itu sudah bertengger di puncak tangga lagu. Ini menjadi tanda bahwa karakter Tangga masih kuat. Chevrina berhasil bermain di ranah alto yang ditinggalkan Desty. Mampukah Tangga bertahan dengan personel dan warna musik yang sudah diterima masyarakat ini?

Tahir Hadiwijoyo

Terjun ke Dunia Entertainment setelah Dijebak Ibunya

Tahir Hadiwijoyo lahir di Jakarta, 8 Agustus 1985, sebagai anak ke-3 dari 5 bersaudara pasangan Ahmad Widodo, salah seorang pegawai PT. Mekar Unggul Sari, dan Farida Saleh, seorang ibu rumah tangga biasa. Tata tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga yang menyukai seni. Ahmad Widodo, misalnya, meskipun bekerja kantoran, tapi juga jago melukis. Sementara kakaknya, Didi Riyadi, adalah drummer Elemen yang juga pemain sinetron. Meskipun demikian, Tata tidak pernah membayangkan dirinya ikut nyemplung ke dunia hiburan. Ia justru ingin bekerja sebagai pegawai kantor. Tak heran, Tata sangat care pada pendidikannya.

Waktu duduk di bangku SDN 20 Pagi, Tebet Timur, Jakarta Selatan, Tata selalu masuk 3 besar di kelasnya. Bahkan dari kelas 1 sampai kelas 4 ia selalu menjadi juara kelas. Prestasi itu berlanjut hingga ia duduk di bangku SMP 3 Depok, Jawa Barat, sekalipun ia hanya masuk kelompok 5 besar di kelasnya. Namun di masa ini ada perubahan besar. Ibu dan Didi, kakaknya, serta Johandi Yahya, manajer Didi, menjebak Tata. Mereka mengirim fotonya ke ajang pemilihan cover boy majalah Aneka. Tata jelas tidak tahu. Ia baru kaget ketika diberitahu bahwa ia sudah masuk final.Semula Tata menolak mentah-mentah. Namun setelah dibujuk bahwa ia bakal mendapatkan uang, ia mau menjalani masa karantina finalis cover boy. “Waktu ikut pemilihan itu gue termasuk peserta termuda. Gue baru kelas 3 SMP,” ceritanya.

Tanpa disangka, Tata berhasil menjadi juara favorit. Sejak saat itu ia resmi terjun ke dunia entertainment di bawah naungan manajemen Johandi Yahya. Tata lalu ikut casting. Sinetron pertamanya adalah Srikandi. Karena mulai sibuk, prestasi belajarnya menurun. Tapi itu rupanya bukan soal karena di saat bersamaan ia diajak serius bermusik oleh manajernya. Rupanya Johandi melihatnya ia suka menyanyi sendiri. Ia kemudian menawari Tata membentuk group vokal. Itulah awal Tangga, grupnya. “Setelah kenal dunia musik ini, gue jadi lebih tertarik di musik ketimbang main sinetron,” akunya.

Di sela-sela menyanyi, Tata masih bermain sinetron. Sinetronnya setelah Srikandi adalah Di Sini Ada Setan (2003). Setahun kemudian, ia membintangi Di Sini Ada setan versi layar lebar. Setelah hampir 4 tahun membentuk group vokal, baru pada tahun 2005 Tata bersama Tangga berhasil melemparkan debut albumnya, Tangga. Kurang dari 2 tahun album keduanya Cinta Begini berhasil diluncurkan.

Masih Ingin Bekerja Kantoran. Setelah 6 tahun terjun di dunia tarik suara maupun acting, Tata sudah mulai menikmati jerih payahnya. Ia sudah punya tabungan dan bisa membiayai kehidupannya sehari-hari termasuk kuliahnya di London School of Public Relation, jurusan Public Relation. Meskipun demikian, Tata belum merasa sukses. Baginya, sukses tidak dinilai dari materi, melainkan dari hasil karya. Sukses berarti hasil karyanya menginspirasi orang banyak. Dan Tata sendiri belum merasa membuat itu.

Meskipun sudah jatuh cinta pada dunia tarik suara, Tata tidak ingin melupakan dunia kerja formal. Ia masih ingin mengejar cita-citanya yaitu bekerja kantoran mengikuti jejak ayahnya. Lalu menyanyi? Dunia itu tak ditinggalkannya. Yang ia tinggalkan adalah dunia sinetron.

Muhammed Kamga

Sempat Minder dan Nangis Gara-Gara Kulitnya Beda dengan Temannya

Muhammed Kamga mengaku sejak balita sudah hidup terpisah dari kedua orang tuanya. Anak tunggal pasangan C.T Thiencheu dan Karnely Suzanawati ini lebih banyak menghabiskan masa kecilnya bersama neneknya. Maklum kedua orang tuanya bercerai ketika usianya baru menginjak tiga tahun. Ayahnya kembali ke Kamerun dan ibunya harus berkerja sebagai single parent di Jakarta. Meskipun Kamga lahir di Jakarta, 9 November 1978, nasib membawanya ke kota Bogor. “Umur tiga tahun gue pindah ke Bogor dan tinggal bersama nenek. Kebetulan ibu cukup sibuk dan gue senang dengan atmosfer kota Bogor,” katanya.

Waktu kecil, Kamga tidak begitu merasa terpisah dengan kedua orang tuanya, sehingga ia menikmati masa sekolahnya di TK Al Munawar. Maklum, ia belum mengerti. Baru ketika duduk di bangku SD Bina Insani, Kamga mulai merasa tidak percaya diri. Warna kulitnya hitam, persis seperti ayahnya. “Awalnya gue cukup beda ketika sekolah karena gue kan keturunan Kamerun. Jadi waktu itu sering nggak pede bahkan kalau diejek temen, gue sering malu dan nangis,” ceritanya. Perasaan itu baru terkikis saat duduk di bangku kelas 3 SD. Kamga mulai punya banyak teman dan berpikir bahwa ia dikaruniai warna kulit yang berbeda. Itulah kelebihannya karena teman-temannya lebih mudah mengingatnya.

Seiring bertambahnya teman dan rasa percaya diri, Kamga mulai merasakan nikmatnya berteman di tengah “kesendirianya” dan bisa mengobati kesepiannya ketika jauh dari ibunya. “Karena gue anak tunggal, jadi temen itu terasa sangat penting buat mengisi hari-hari gue. Apalagi gue tinggal jauh dari ibu,” ungkapnya. Sebenarnya ibunya sempat menemaninya di Bogor meskipun bekerja di kawasan Sudirman, Jakarta. Tapi Kamga kasihan juga melihat ibunya bolak-balik Bogor-Jakarta. Akhirnya mereka sepakat bahwa mereka baru bisa bertemu hari Sabtu dan Minggu. Meskipun jarang bertmu, kata Kamga, ikatan batin mereka lumayan kuat.

Hidupnya Berubah setelah Mengenal Musik. Penggemar berat Craig David dan Brian Mc Knight ini merasa hidupnya mulai berubah ketika ia mengenal musik. Saat itu ia duduk di bangku kelas 4 SD. Waktu itu ia suka sekali mendengarkan lagu dari album Pesta Rap-nya Sweet Martabak. Gue kan masih kecil dan nyoba-nyoba ngerap. Rasanya lucu aja. Setelah meniru gaya mereka, kayaknya seru. Jadi awalnya gue suka ngerap dan kemudian baru menyanyi. Dari sinilah gue menganggap kalau musik itu ternyata seru,” ujarnya. Tapi waktu itu ia belum sadar bahwa di tubuhnya mengalir darah seorang penyanyi. Ia baru mulai sadar ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu ia ditawari gurunya ikut lomba. Ia membawakan lagu Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu milik Dhea Ananda. Hasilnya? Ia keluar sebagai juara satu.

Sejak saat itu, Kamga mulai senang menggeluti dunia tarik suara. Ketika duduk di bangku SMP Bina Insani, Bogor, ia memberanikan diri meminta izin kepada ibunya untuk mengikuti les vokal di Jakarta. Banyaknya penyanyi bersuara bagus dan ngetop yang tinggal di Jakarta menjadi salah satu pertimbangannya. “Jadi ketika masih SMP, aku tuh bolak-balik naik bus Jakarta-Bogor. Abis sekolah, gue berangkat naik bus ke Jakarta untuk les vokal,” ceritanya. Kamga mengikuti les vokal di Bina Seni Suara (BSS) dua kali seminggu.

Setelah aktif mengikuti les vokal, Kamga mulai bertemu dengan banyak penyanyi yang bersuara bagus, termasuk lulusan BSS yang akhirnya mampu membuat album solo musik sendiri. “Setelah ada lulusan BSS yang bikin album akhirnya menginspirasi gue untuk bisa mengikuti jejak mereka. Ada satu orang yang pernah bilang ke gue, kalau pengen sukses bermusik maka gue harus menentukan musik yang gue suka,” begitu nasihat seniornya waktu itu. Akhirnya setelah mencari-cari lagu yang cocok dengan gaya dan soul-nya, Kamga memilih A Song for Mama milik Boyz II Men. Kebetulan saja pengajar vokalnya, Alfian yang berasal dari Ambon, menyukai black music.

Bakat dan potensi vokal Kamga rupanya menarik perhatian anak-anak SMP kelas dua, seniornya. Mereka mengajaknya untuk menjadi vokalis di grup band Fourte. Inilah band pertama Kamga hingga kelas 1 SMA. Karena personel band tak lagi satu sekolah, mereka bubar. Kamga kemudian bergabung dengan band The Acoustic di sekolahnya, SMUN 2 Bogor, yang beberapa personelnya mantan personel Fourte. “Di band baru ini, lucunya kita bawain lagu-lagu cewek yang dengan gaya selelaki mungkin dan tetap menggunakan power black music. Jadi gue nggak ngerasa susah dan justru betah,” akunya.

Waktu duduk di bangku kelas 1 inilah, karir musiknya mulai terbuka. Ceritanya, Alfian meneleponnya dan menyuruhnya datang ke tempat les karena ada orang yang ingin menemuinya. Ternyata ada Joy dan Tata. Mereka ingin mengajak Tata untuk bergabung. Tapi Tata ingin tahu dulu seperti apa konsep musiknya. Setelah penjelasan singkat, mereka kemudian bertemu dengan Harry Budiman. “Konsep musiknya bagus. Jadi nuansanya pop, tapi gue diberi kebebasan untuk menyanyikan musik seperti apa pun. Akhirnya waktu itu Tangga berpersonil Tata, Kamga, Nera dan Desty menyusul beberapa bulan kemudian,” ungkapnya. Cita-cita Kamga yang memang ingin menekuni dunia musik secara total mulai menuai hasil. “Pada tahun 2005, Tangga ngeluarin album pertama ketika gue berumur 17 tahun. Gue udah masuk di industri musik. Gila, ini cepet banget,” katanya seolah tak percaya.


Nerra Merlin

Sempat Dikontrak 10 Tahun Nyanyi di Korea

Nerra Merlin lahir di Jakarta 2 Januari 1985 sebagai sulung dari 3 bersaudara pasangan Bella Malella, seorang ibu rumah tangga, dan Rukiah, seorang wirausahawan di bidang spare part mobil. Sejak kecil Nerra memang sudah menyukai dunia seni, terutama menyanyi. Waktu itu ibunya menginginkannya menjadi penari terkenal. Ia kemudian sekolah musik. Awalnya, cerita Nerra, ia tidak bisa apa-apa. Lagu yang ia bawakan pun hanya lagu anak-anak yang berjudul Ambilkan Bulan. Seiring dengan banyaknya latihan, Nerra pun mampu mengeluarkan kemampuannya. Puncaknya waktu duduk di bangku SD 01 Pagi, Jakarta, ia dikirim ke berbagai negara ASEAN untuk mengikuti berbagai kontes.

Namun waktu duduk di bangku SMP Kasih Ananda, Jakarta, Nerra berhenti total. Ia hanya latihan menari di sebuah sanggar kecil. Ia baru mulai bernyanyi lagi ketika duduk di bangku kelas 1 SMA 110, Jakarta. Ceritanya, waktu itu ia mendengar kabar bahwa sekolah musik Elfa Secioria membutuhkan tim paduan suara untuk Choir Olympic di Linz, Austria (2002). Nerra lalu mengirimkan demo suaranya. Ternyata Nerra lolos kualifikasi. Jadilah Nerra menjalani tur pertamanya ke Eropa. Setelah itu, ia kembali dikirim ke Busan, Korea, untuk mengikuti ajang yang sama. “Di Korea aku dikontrak menyanyi 10 tahun. Karena aku ada proyek dengan Tangga akhirnya nggak nyampe 10 tahun aku tinggalin,” ujar mahasiswa semester akhir universitas Dr. Moestopo jurusan Komunikasi ini.

Bergabung dengan Tangga. Ketika Nerra mengikuti kontes menyanyi di luar negeri, diam-diam sang ibu mengirimkan fotonya ke ajang pemilihan cover guest di sebuah majalah Aneka. Ketika kembali, Nerra ditelepon pihak penyelenggara yang mengatakan kalau ia lolos. Nerra kaget bukan kepalang. Tapi ia dengan senang hati mengikuti ajang tersebut sampai selesai, hingga akhirnya masuk final dan menjadi juara 2 cover guest majalah itu (2001). Ia pun tampil di cover majalah untuk beberapa edisi. Saat itulah ia bertemu dengan alumni cover boy, Tata dan Arifin Putra. Keduanya saat itu sudah dimanageri oleh Johandi Yahya. Ketika bertemu, pihak majalah bercerita kepada Tata kalau Nerra juga jago menyanyi.

Seminggu setelah pertemuan itu, ia ditelepon pihak menajemen Johandi. Ia mendapatkan tawaran untuk rekaman. Nerra senang. Syaratnya, ia harus dites dulu oleh Harry Budiman, produser Tangga saat ini. Ternyata Harry tergoda. Nerra langsung diajak bergabung bersama managemen Johandi dan dibuatkan vokal grup, Tangga. Tapi waktu itu ia hanya bersama Tata dan 2 personel lama. Lagu yang dibawakannya pun masih beraliran hip metal. Di sela-sela kesibukannya bersama Tangga, Nerra juga aktif di beberapa sinetron, antara lain, Opera SMU, SCSK dan Cantik.

Saat ini, persisnya setelah Tangga melemparkan dua album, Nerra mengaku sudah menikmati hasil keringatnya. Ia, misalnya, sudah berhasil membeli mobil sendiri. Sayang sekali, Nerra tidak menyebutkan secara rinci jenis mobil itu. Selain itu, ia juga sudah mampu membiayai keperluannya sehari-hari. Meskpun sudah mulai merengkuh sukses bersama Tangga, Nerra masih punya keinginan lain. Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Ia sadar bahwa dunia entertainment ini hanya sebentar. Ia perlu bekal untuk masa depannya. Dan bekal itu adalah pendidikan. Selain ingin lulus kuliah, Nerra mempunyai satu keinginan lagi, yakni ingin meng-haji-kan sang nenek.


Chevrina Anayang

Sudah Ditinggal Sang Ayah Sejak Kelas 2 SMP

Ketika Ratna Sari Destardy, akrab disapa Desty, keluar dari Tangga, para personelnya bingung. Manajemen Tangga dibuat kelabakan. Di tengah kondisi semacam itulah, Chevrina Anayang muncul sebagai dewi penyelamat. Setelah dites, ia kemudian digandeng mengantikan Desty. Tangga pun selamat dan masih kokoh berdiri sampai sekarang.

Anak yang Tomboy. Chevrina Anayang lahir di Jakarta, 12 Juli 1988 sebagai anak tunggal pasangan Himawan dan Dachliana. Kedua orang tuanya adalah wirausahawan di bidang perdagangan batubara. Sekalipun anak tunggal, Chevrina tidak manja. Ia justru tomboy. Cewek yang akrab disapa Chev ini cenderung berani terhadap anak lelaki. Tidak heran bila beberapa kali ia terlibat perkelahian dengan anak laki-laki. “Kalau melihat cowok itu, aku sering terpancing emosi, hingga akhirnya berantem deh,” ujarnya.

Perubahan sikapnya baru terlihat ketika duduk di bangku kelas 5 SD Harapan Bunda. Ia mulai menyukai lawan jenis. Waktu itu ada seorang bocah lelaki menyatakan cinta kepadanya. “Waktu ungkapkan perasaan, dia bilang sempat takut sama aku. Karena ia menilai aku seperti pentolan di sekolah. Akhirnya gue terima juga sih. Senang banget waktu bisa belajar untuk berbagi perasaan,” kenang cewek yang hobi baca novel ini.

Ditinggal Sang Ayah. Di tengah masa kecilnya yang bahagia, ada juga duka yang dalam. Ia jarang mendapatkan kasih sayang ayahnya yang sedang bergelut dengan kanker usus dan diabetes. Hingga akhirnya sang ayah meninggal dunia ketika ia menginjak kelas 2 di SMP Don Bosco. Meskipun sedih, Chev mencoba tegar dan bersabar. Ia sadar bahwa penyakit yang diderita ayahnya sangat sukar untuk sembuh. “Jadi sebelum kepergiannya gue sudah siap dan pasrah untuk melepasnya, karena itu yang terbaik,”ungkapnya. Otomatis Chevrina hanya dibimbing sang ibu. Dalam beberapa kesempatan, Chev kerap ditinggal sang ibu keluar kota, seperti ke Kalimantan, untuk mengecek barang dagangan. Saat itu ia tinggal di rumah sang nenek.

Meskipun ketika SMP ia mengalami hal menyedihkan, prestasi belajarnya tak surut. Di sekolahnya ia merupakan langganan penghuni peringkat 10 besar. Hari terus berlalu, hingga akhirnya ia masuk SMAN 81 Jakarta. Di sekolah ini prestasinya agak menurun. Maklum saja sekolah tersebut merupakan sekolah unggulan. Karena itu ketika sekolah di sini ia lebih konsentrasi pada tujuan akhir yaitu diterima di universitas negeri. Namun cita-citanya hanya tinggal angan belaka. Karena ketika mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) ia gagal masuk perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Bergabung dengan Tangga. Karena gagal masuk PTN, Chevrina pun menganggur selama setahun. Untuk mengisi kesibukan, ia mengambil les vokal di Fastro, termasuk dua personel Tangga yang lain, Tata dan Nerra. Dunia menyanyi sebenarnya merupakan hal baru bagi Chevrina, Tapi ia ingin mencobanya. Ternyata ia cukup berbakat.

Pada suatu hari, ceritanya, ketika sedang berlatih menyanyi, ia dipanggil oleh Johandi. Rupanya Johandi sudah memperhatikannya. Saat itu ia tidak langsung ditawari menjadi personel Tangga, tetapi harus menjalani tes vokal dengan menyanyikan lagu Cinta Begini milik Tangga bersama beberapa murid sekolah tersebut. Waktu itu ia tidak paham maksud tes vokal tersebut. Baru ketika menjalani tes ia sadar bahwa tes tersebut untuk mencari pengganti Desty. “Tes nya itu sifatnya tertutup kok,” ujar pemilik tinggi 155 cm dan berat 44 kg ini.

Keesokan harinya Chevrina dinyatakan lolos tes. Ia pun resmi berlatih bersama Tangga dan menggantikan suara Desty di album terbaru Tangga. Kini ia siap mengejar mimpinya, yakni tidak menggantungkan diri pada sang ibu. Saat ini Chevrina telah mendaftar di Interstudy, jurusan Broadcasting.

No comments: